
KALIMANTAN, 22 AGUSTUS 2026 — Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali mengepung Pulau Kalimantan, memicu krisis kabut asap parah yang melumpuhkan aktivitas warga hingga berdampak pada negara tetangga. Puncak musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino membuat titik api menyebar tak terkendali di berbagai wilayah, memicu peringatan darurat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ribuan Titik Panas Mengepung Kalimantan
Berdasarkan data pantauan satelit, aktivitas titik panas (hotspot) melonjak tajam sepanjang Agustus 2026. BNPB mendeteksi setidaknya 1.487 titik panas yang berpotensi menjadi karhutla di seluruh Kalimantan, dengan sebaran terbanyak di:
-
Kalimantan Tengah: 767 titik
-
Kalimantan Barat: 560 titik
-
Kalimantan Timur & Selatan: Masing-masing 74 titik
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Barat mencatat bahwa sejak Januari hingga Juli 2026, telah terdeteksi lebih dari 17.200 titik api, di mana mayoritas kebakaran terjadi di ekosistem lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan karena api menjalar di bawah permukaan tanah (subsurface fire).
Dampak Nyata: Udara Beracun hingga Penerbangan Lumpuh
Kondisi udara di berbagai kota memburuk drastis, mengancam kesehatan pernapasan warga.
-
Kualitas Udara Berbahaya: Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, konsentrasi PM2.5 menembus angka 389,4 mikrogram per meter kubik—jauh di atas ambang batas aman, sehingga masuk dalam kategori ekstrem atau “sangat tidak sehat”. Di Pontianak, Kalimantan Barat, indeks kualitas udara (AQI) tercatat di angka 191 pada pagi hari.
-
Lumpuhnya Penerbangan: Kabut asap tebal membuat jarak pandang turun drastis di bawah batas aman penerbangan. Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh (Kalteng) dan Bandara Singkawang (Kalbar) terpaksa membatalkan atau menghentikan sementara operasional penerbangannya.
-
Insiden Kebakaran Permukiman: Cuaca kering juga memicu kebakaran di area permukiman. Di Pasar Sungai Duri, Bengkayang, Kalimantan Barat, 50 ruko hangus dan 39 kepala keluarga terdampak. Sementara di Balikpapan, belasan rumah kayu ludes dilalap si jago merah. Suhu udara harian di beberapa wilayah Kalimantan Tengah bahkan dilaporkan menembus 45 derajat Celcius.
Imbas Lintas Negara: Malaysia Tutup Ratusan Sekolah
Bencana ekologis ini tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Angin membawa kabut asap pekat melintasi perbatasan, berdampak langsung pada negara tetangga. Akibat memburuknya kualitas udara yang terbawa dari Kalimantan, otoritas Malaysia dilaporkan terpaksa menutup sementara lebih dari 100 sekolah di wilayah Sarawak.
Media-media di Malaysia dan Singapura, seperti Malay Mail dan Free Malaysia Today, secara intensif menyoroti lonjakan titik api ini, menyebutnya sebagai jumlah tertinggi di bulan Agustus dalam satu dekade terakhir.
Respons Pemerintah dan Tantangan Pemadaman
Pemerintah pusat melalui BNPB bersama BPBD dan aparat setempat terus berupaya melakukan pemadaman baik darat maupun udara. Namun, operasi pemadaman menemui sejumlah kendala serius:
-
Lahan Gambut: Karakteristik api yang membakar lahan gambut di bawah tanah membuat pemadaman sangat sulit dan membutuhkan waktu lama.
-
Angin dan Air: Minimnya sumber air di lokasi kebakaran dan tiupan angin kencang kerap membuat api kembali membesar.
-
Anggaran Terbatas: Sejumlah pihak, termasuk Walhi, menyoroti minimnya persiapan dan pemangkasan anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2026, yang dinilai menghambat gerak cepat di lapangan.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar dan kelompok rentan (anak-anak, lansia, penderita asma) disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker.



One Comment
Great read, thanks for sharing. Found something related over at pc-wbsports.com that adds useful context.